[FF] Love Or Friend ?

Standard

Cast : Cho kyuhyun, Lee Sungmin, lee minji

POV : cho kyuhyun

Berjalan-jalan sore itu sangat menyenangkan. Udaranya tidak terlalu panas, banyak yang dapat kita lihat dan satu hal yang paling kusuka adalah saat aku melewati toko roti disebrang jalan department store. Dia selalu disana saat jam menunjukkan pukul 16.30. Merapikan luar tokonya, dan kau tau? Kau selalu

datang kesana setiap hari tanpa terkecuali hari minggu. Aku tidak akan pergi kesana kalau dia tidak ada disana. Mungkin kalian bertanya, apa aku begitu menyukai roti sehingga aku setiap hari kesana? Tidak. Aku seseorang yang sejujurnya tidak menyukai roti, tetapi aku membeli untuk temanku dirumah. Setelah membayar semua roti yang ku beli, aku pun segera pulang.

*TING TONG* suara bel apartmentku berbunyi. Terdengar ada seseorang menuju pintu untuk membukakan pintu.

“YA! CHO KYUHYUN! KAU MEMBELI ROTI LAGI?? Apa kau tidak bosan setiap hari membeli roti?” tanya orang itu. Dia terlihat sangat kesal saat melihat aku membawa kantung berisi roti. Ya roti ini bukan untukku, ini ak beli untuknya.

“Heei!! Berisik sekali kau ini! Ini kan sudah kulakukan setiap hari dan kau tidak pernah protes, mengapa kau sekarang protes padaku?” tanyaku pada teman sekamarku ini. Namanya lee sungmin, dia adalah temanku sejak lama. Bukan hanya teman, dia adalah sahabat yang sangat aku sayangi selain keluargaku. Sungminlah yang menjadi korban rotiku. Dia kusuruh untuk menghabiskan semua roti yang kubeli.

“Aku sudah muak, setiap hari harus memakan roti. Apa kau pikir aku ini penampungan roti? Kalau kau tidak suka jangan kau beli! Ini hanya membuang uangmu saja. Kau tau? Aah kurasa kau sudah dibutakan oleh cinta cho kyuhyun,” kata sungmin lalu pergi meninggalkanku yang masih berada di depan pintu.

“Percuma saja aku bicara dengannya. Toh dia juga tidak akan mendengarkan perkataanku. Dia itu sudah sangat dibutakan oleh cinta. Aku jadi penasaran siapa yang bisa membuat seorang cho kyuhyun menjadi buta seperti ini?” gumam sungmin yang terdengar denganku. Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya. Terkadang aku merasa kasihan pada sahabatku ini, dia selalu saja menjadi korban rotiku. Setelah menaruh rotiku di meja makan, aku pun menghampiri sungmin yang sejak tadi berada dikamar.

“Sungmin-ah..” panggilku

“Apa?” jawabnya singkat

“Sedang apa kau? Kau masih kesal padaku?” tanyaku

“Tidak. Sudah keluar sana aku sedang sibuk,” jawab sungmin. Aku pun mengerutkan dahi bingung dengan tingkah laku sungmin yang tidak seperti biasanya. Aku tidak menurutinya. Aku semakin mendekat. Penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan. Merasa ada yang menghampirinya, sungmin segera membereskan sesuatu dari atas mejanya dan berbalik menatapku.

“Ada apa? Ku suruh kau untuk keluar. Kenapa masih disini? Kau tuli?” katanya. Aku belum pernah meliaht sungmin semarah ini padaku. Apa aku sudah kelewatan terhadapnya? Hanya masalah roti saja dia sampai semarah ini padaku? Kalau ini benar, kekanakan sekali sifat sungmin.

“Ada apa denganmu? Kau tidak pernah begini padaku. kau tidak pernah merahasiakan apa pun padaku. Sekarang, mengapa kau seperti ini? Jika ini hanya masalah roti, kau terlalu kekanakan sungmin-ah!” ku beranikan diriku untuk marah terhadapnya. Sebenarnya ini bukan marah sungguhan, tetapi aku hanya ingin lihat apa reaksinya.

“Memangnya semua urusan pribadiku kau harus mengetahuinya cho kyuhyun? Kau itu bukan keluargaku. Kau hanya temanku, jadi jangan terlalu mencampuri urusanku. Dan satu lagi, mulai sekarang, aku tidak akan berbaik hati lagi padamu. Terserah kau mau melakukan apa pun sesuka hatimu. Aku tidak peduli. Sekarang, kau keluar dari kamarku!” bentak sungmin padaku. aku tidak percaya kalau sungmin akan melakukan ini padaku. Aku yang awalnya hanya ingin bercanda padanya ternyata menjadi seperti ini. Yasudahlah kupikir mungkin sungmin memang punya masalah prbadi yang dia tidak bisa ceritakan padaku.  Tetapi setelah kejadian hari itu, hubunganku dengan sungmin agak menjauh.

슈  슈  슈

Hari ini aku memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Aku datang ke tokonya dan segera mengahmpirinya yang sedang menaruh beberapa roti di temaptnya. Saat semakin dekat mengapa aku begitu berdebar, dia pun melihatku dan sedikit mengerutkan alisnya. “Kau, tidak biasanya kau datang pada jam segini. Ada yang bisa kubantu?” tanyanya padaku. “Ah tidak, aku hanya ingin mengajakmu keluar,” jawabku sedikit gugup.

“Mengajakku?” tanyanya bingung.

“Iya, aku ingin mengenalmu lebih dekat. Apa kau punya waktu?” tanyaku memberanikan diri. Rasanya aku tidak akan kuat jika berdiri terlalu lama di depannya seperti ini.

“Hmm, sebenarnya aku ada waktu tetapi malam nanti,” jawabnya

“Baik. Tidak masalah. Kau yang tentukan saja waktu dan tempatnya,” jawabku antusias

“Baiklah. Jam 7 di cafe kona beans,” katanya lalu melanjutkan pekerjaanya

“Ok. Jam 7 disana. Kamsahamnida,….”

“Panggil saja minji,” katanya sambil melihat ke arahku.

“Baik. Kamsahamnida minji-ssi,” kataku seraya keluar dari toko

“YUHUUUUUUUUUUUUU!!!!!!! Akhirnya! Akhirnya! Aku bisa berkencan dengannya. Oh minji,” kataku rasanya aku ingin memberitahukan pada semua orng bahwa aku sudah bisa berkenalan bahkan mengajaknya berkencan. Wanita yang sudah kusukai 1 tahun belakangan ini.

***

Jam baru menunjukkan pukul 18.45. Aku sudah sampai di tempat janjianku. Aku sangat bahagia sampa tidak sabar menunggu 15 menit saja. Tepat pukul 7 dia datang. Dia terlihat begitu berbeda jika tidak menggunakan seragam tokonya. Terlihat lebih dewasa dan tentunya sangat cantik.

“Annyeonghaseyo,” sapanya

“Annyeonghaseyo minji-ssi, silakan duduk,” kataku. Dia pun segera duduk.

“Kau mau pesan apa?” tanyaku

“aku mau ice chocolate”

“Baiklah, aku pesan 1 ice chocolate dan 1 chocolate,” kataku pada seorang pelayan. Ketika pelayan itu pergi barulah aku mulai membuka pembiacaraan.

“Maaf sebelumnya memintamu untuk datang,” kataku

“Tidak apa-apa. Tetapi, apa yang kau ingin tau dariku?” tanyanya

“Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat.” Jawabku. Tetapi, akhirnya kuberanikan diriku untuk bicara jujur tentang perasaanku padanya.

“Minji-ssi, sebernarnya ada yang ingin aku katakan padamu,”

“Apa itu? Katakan saja,”

“Sudah 1 tahun ini aku memiliki perasaan lebih padamu. Aku… aku menyukaimu minji-sii,” kataku sambil menunduk. Tetapi, tidak ada respon darinya. Suara atau gerakan pun tidak. Aku sudah pasrah, aku tau akan seperti ini. Aku pun mencoba mengangkat kepalaku. Ternyata dia sedang menatapku dengan senyuman. Senyuman yang tidak biasanya. Itu senyuman termanis yang pernah kulihat darinya.

“Kau.. Kenapa kau begitu tegang? Kau menyukaiku? Tapi kenapa mlu seperti itu? Ckckckckck kau sama sekali tidak gentle,” katanya menertawakanku. Kurasakan wajahku panas seketika. Aku hanya bisa salah tingkah padanya.

“Hahaha sudah sudah, kenapa jadi seperti ini. Kau, siapa namamu?” tanyanya

“Aku kyuhyun. Cho kyuhyun,” jawabku

“Baiklah kyuhyun-ssi, apa kau benar-benar menyukaiku?”

“Iya aku sangat menyukaimu.”

“Tapi mianhae… jeongmal mianhae kyuhyun-ssi, aku….”

“Gwaenchana. Gwaenchana minji-ssi. Aku sudah senang bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Apa kita bisa menjadi teman?” tanyaku

“Iya kita bisa jadi teman…” belum lagi minji selesai bicara aku potong ucapannya. Aku tidak tahan mendengar yang selanjutnya. Ditolak. Aku tau jawabannya.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya, sepertinya aku ada acara sekarang. Sampai nanti minji-ssi,” aku pun segera keluar dari cafe. Pergi meninggalkannya. Aku malu, sangat malu.

Aku masih bisa mendengar minji meneriaki namaku. Cukup. Aku tidak mau mendengarnya dulu. Hari ini hari terburuk dalam hidupku. Padahal aku sudah tau akhirnya akan begini, tetapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya begitu saja.

Ku berjalan dengan gontai menuju apartmentku. Saat ku tiba di depan pintu, aku merasa ada yang aneh. Kenapa gelap sekali. Pergi kemana sungmin sudah selarut ini dia belum pulang. Untung aku punya kunci cadangan. Saat kubuka pintu, betapa terkejutnya aku melihat ada seseorang yang tergeletak di lantai.

“SUNGMIN-AH!!!”pekikku

“LEE SUNGMIN. IREONA! PALLI IREONA!!!!” ku goncangkan tubuh sungmin. Tetapi tidak ada reaksi. Aku sangat khawatir dengannya. Segera ku bawa dia ke rumah sakit.  Aku tidak bisa berpikir jernih melihat keadaan sungmin. “Ada apa ini? Kenapa dengannya?” tiba-tiba aku teringat sesuatu yang dia sembunyikan waktu itu. Aku yakin itu ada hubungannya dengan keadaan sekarang.

Segera aku pulang dan mencari barang itu. Benar saja dugaanku. Sesuatu terjadi padanya. Aku terjatuh saat tau apa yang terjadi padanya. Serasa tubuhku begitu payah untuk berdiri. Aku teriak, menjerit sekencang-kencangnya. Orang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, kenapa? Kenapa dia begitu tega padaku? kenapa dia tidak memberi tauku yang sebenarnya? Aku menangis. Kusalahkan diriku, aku tau sungmin selalu sabar menghadapiku. Tetapi aku tidak pernah mendengarkan apa keluhannya. Dia tau semua tentangku, semua rahasiaku. Sedangkan aku? Aku tidak tau apa yang terjadi padanya. Aku tidak tau apa yang sedang dia rasakan. Sekarang aku tau, sungmin adalah orang yang sangat berharga untukku.

Aku segera kembali ke rumah sakit dan menemui dokter yang menangani sungmin. Ku tanya sudah seberapa parah penyakit yang sungmin  derita, ternyata harapannya untuk hidup sudah sangat sedikit. Sungmin menderita leukimia. Sekarang sudah memasuki stadium 4. Sungmin menderita ini sudah sejak 3 tahun terakhir, dia tidak mau aku mengetahuinya. Aku baru sadar, kenapa sungmin akhir-akhir ini tidak mau aku ajak berjalan-jalan dan dia selalu tidur lebih awal. Ini karena penyakitnya sudah sering kambuh.

Sungmin sudah dipindahkan ke kamar rawat. Ketika aku sampai di depan pintu, tidak tau kenapa dadaku begitu sesak, aku rasa aku tidak bisa melihatnya. Ku kuatkan diriku, kubuka perlahan pintu kamar, terlihat sungmin yang terbaring lemah di tempat tidur. Ku dekati dia, ku lihat wajah putih nya yang sekarang sudah menjadi pucat. Sungmin yang dulu ceria sekarang terbaring lemah di rumah sakit karena penyakitnya yang dia tahan.

“Pabo! Dasar namja pabo! Lee sungmin kau pabo!” pekikku sambil menangis

“Kenapa kau begitu bodoh! Kau tidak menganggapku sebagai keluargamu? Kau melakukan ini kau membuatku semakin sakit sungmin-ah,” aku menagis terus menangis. Hanya sungmin yang aku punya. Dialah yang menjagaku ketika aku kecil.

***

Matahari pagi membuatku terbangun. Ternyata aku tertidur di sebelah ranjang sungmin. Kulihat dia masih tidur. Ku putuskan untuk membeli makanan karena dari semalam aku belum makan. Makanan yang kupesan d cafe belum sempat kumakan karena aku terlalu panik dengan keadaan sungmin. Aku berjalan ke kantin untuk membeli makan. Sebenarnya aku tidak ada nafsu makan sekarang, tetapi perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Kupaksakan makan walupun hanya  2, 3 sendok. Aku kembali ke rumah sakit dan aku merasa ada seseorang di kamar sungmin. Dilihat dari luar sepertinya seorang wanita. Wanita? Sungmin punya seorang pacar? Apa untuk hal ini juga dia tidak bisa menceritakannya padaku?

Kubuka pintu kamar sungmin, wanita itu berbalik badan. Aku diam tidak bisa berkata-kata. Belum bisa mencerna dengan baik apa yang sebenarnya di depanku. Apa aku terlalu sakit karena kejadian semalam?

“Kyuhyun-ssi?”

“Kau? Kau kenal dengan sungmin?” tanyaku bingung

“Iya, dia kekasihku” Jawabnya. Seketika udara terasa sangat panas. Dadaku pun terasa sangat sesak. Aku keluar kamar sungmin.

“Kenapa seperti ini? Kenapa harus sungmin?”

“Kyuhyun-ssi?”

“Ada apa?” tanyaku

“Kau kenal dengan sungmin?’”

“Dia temanku. Bukan. Dia sahabatku dan sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri,” jawabku

“Kau, sudah berapa lama kau berpacaran dengannya? Dan kau tau tentang penyakitnya?” lanjutku

“Aku sudah hampir 2 tahun berpacaran dengannya. Iya aku tau tentang penyakitnya ini. Maafkan dia kyu, bukannya dia tidak mau bercerita denganmu tetapi saat dia tau siapa yang kau sukai dia tidak mau membuatmu terluka.” Jelasnya

“Bagaiamana dia tau?”

“Saat dia melihat foto di kamarmu. Waktu itu dia ingin meminjam kameramu, tetapi pada saat dia melihat foto itu, dia tau siapa yang kau sukai. Dia urungkan niatnya untuk memberitaumu.”

“Bisa kau tinggalkan aku sendiri?” minji mengangguk dan meninggalkanku

Aku merenungkan semua perkataan minji. Sungmin begitu menjaga perasaanku. Dia tidak ingin melihatku terluka. Sampai untuk penyakitnya pun dia sembunyikan. “Kau benar-benar hebat sungmin-ah, kau bisa menutupi semuanya dariku.”

Aku kembali ke kamar sungmin dan melihatnya sudah sadar tapi masih terlihat lemah. Sungmin melihatku dan tersenyum lemah. Ku hampiri dia, aku hanya bisa menghela nafasku.

“Pintar,” ucapku padanya.

“Pintar?” tanyanya bingung.

“Iya, kau sangat pintar menyembunyikan semua ini dariku. Aktingmu sangat bagus sungmin-ah. Kau pantas jadi seorang aktor,” kataku

“Maafkan aku kyuhyun-ah, aku tidak bermaksud….”

“Sudah, aku tau semuanya. Aku minta maaf padamu, aku tidak tau kalau dia pacarmu dan maafkan semua kesalahanku sungmin-ah,” kataku. Kurasakan airmataku sudah tidak bisa kutahan. Sungmin menepuk pundakku  pelan. Dia memberikanku kekuatan agar tidak menangis lagi.

“Kyuhyun-ah, uljima. Jangan menangis lagi. Kau ini pria. Mana boleh pria menangis seperti ini. Aku tidak apa-apa aku akan segera sembuh. Kau harus yakin itu.  seharusnya aku yang meminta maaf padamu kyuhyun-ah. Aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku hanya tidak ingin kau terluka.” Jelasnya

Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi padanya. Kupeluk dia dengan erat. Aku sangat rindu memeluknya seperti ini. Aku rindu pelukkan seorang kakak. Aku sangat menyayanginya.

“Aku menyayangimu sungmin-ah,” kataku disela-sela pelukkanku

“Aku juga sangat menyayangimu kyuhyun-ah. Adik kecilku yang cengeng,” katanya sambil mengacak rambutku. Aku hanya bisa tertawa melihatnya.

“Sekarang, kau bisa terang-terangan berpacaran dengan minji. Aku tidak apa-apa, tidak ada gunanya aku marah. Tidak akan membuat minji berpaling padaku kan? Aku yakin suatu saat aku akan mendapatkan yang lebih baik. Jadi sekarang ini yang harus kau lakukan kau harus sembuh. Kau tau aku tidak bisa hidup sendiri. Dan hanya kau yang tau bagaimana aku,”

“Gomawo kyuhyun-ah. Aku janji akan segera sembuh dan kembali seperti dulu lagi,” katanya

***

Sudah 8 bulan setelah sungmin masuk rumah sakit kemarin. Sekarang sungmin sudah rutin untuk kemoterapi. Walaupun sekarang rambutnya sudah rontok, tetapi dia tetap tampan. Aku dan minji bergantian menjaganya di ruman sakit.

Hari ini tepat hari ulang tahun sungmin. Aku dan minji sudah mempersiapkan kejutan untuknya. Minji yang hari ini mengantarkan sungmin untuk kemoterapi sementara aku membuat kejutan. Semua sudah kupersiapkan dengan baik, tinggal menunggu minji dan sungmin kembali.

*TING TONG*

Buru-buru kumatikan semua lampu. Saat sungmin dan minji masuk, semua ruangan gelap dan….

“SURPRISEEEEEEE!” kataku. Terlihat sungmin sangat terkejut dan senang menerima kejutan di hari ulang tahunnya.

“Kau yang mempersiapkan semua ini?” tanya sungmin

“Ani. Minji yang membantuku, kau suka?” sungmin mengangguk senang.

“Baiklah, sekarang kau tiup lilinnya. Tapi sebelum itu kau harus membuat harapan dulu,” kata minji. Sungmin mengangguk.

Sungmin pun segera membuat permohonanya. Cukup lama sungmin membuat permohonan, aku mulai curiga. Kugoyangkan badan sungmin, seketika sungmin terjatuh. Aku dan minji tertunduk lemas. Kami sudah mengira ini akan terjadi. makanya kami membuat kejutan di ulang tahun sungmin karena ini mungkin akan menjadi ulang tahun terakhir untuknya.

***

Hari ini tepat setahun sungmin pergi. Aku dan minji mengunjunginya di tempatnya sekarang.

“Sungmin-ah, hari ini ulang tahunmu yang ke 25 aku dan minji datang untuk mengucapkan selamat padamu. Saengil chukkahamnida lee sungmin,” kataku

“Sungmin-ah, saengil chukkahamnida. Kau tau sekarang aku sedang mengandung anakku dengan kyuhyun. Dia sangat aktif sekali. Jika kau masih disini aku ingin dia bermain denganmu nanti,” kata minji.

“Sekali lagi selamat ulang tahun lee sungmin. Kau akan selalu ada di hati kami. Kami yakin kau bisa melihat kami dari atas sana dan kau sudah bahagia sekarang.”

“Saranghae yeongwonhi sungmin-ah” bisikku di depan nisannya.

“Kami pulang dulu, nanti kami akan datang lagi.” Kataku dan segera mengajak minji untuk segera pulang.

“Aku janji padamu sungmin-ah aku akan menjaga minji dengan sepenuh hatiku sesuai dengan amanatmu padaku. aku janji,” batinkku

Sequel –>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s