Title: On The Wheelchair

Author : Diandra

Cast: Yesung Super Junior, Tansa, dan anak Suju lainnya

Genre: Kayanya Friendship deh hehe

ini ff pertama, iseng-iseng buat hehehe… sekalian hadiah ultah buat Yesung! hueheheheh… (gak bakal baca juga kali dianya😀 ). jangan diketawain, dan punten. maaaap banget kalo jelek atau sangat lebay😉 enjoy.

Yesung’s POV

“Bolkamalka, bolkamalka, bolkamalka, na gateun namja

Bonchemanche, bonchemanche, bonchemanche, doraseo bwado

Bogobwado, bogobwado, bogobwado, na bakke eobtda

Bonamana, bonamana, bonamana, na bakke eobtda, eobtda, eobtda, eobtda…,”

Dadaku naik-turun, aku mulai mengatur nafasku. Tubuhku lelah tak terkira setelah nyanyi dan nari sekitar 15 lagu untuk para fans kami di negara ini. Dan akhirnya konser melelahkan ini berakhir juga.

“Saranghaeyo, Indonesia! Terimakasih!” Leeteuk mengakhiri konser kami.

Aku mulai berjalan memasukki backstage dengan peluh yang terus mengalir menuruni leherku, juga keningku. Setelah ber- high five dengan beberapa rekan Super Junior dan beberapa kru yang bertugas, aku langsung berjalan menuju tempat diletakkannya berbotol-botol air mineral. Aku mengambil sebotol, dan langsung meneguk isinya sampai tinggal setengah.

“Habis ini mau langsung ke hotel?” tanya Ryeowook sambil menepuk bahuku dari belakang, lalu mengambil botol minum dari dalam kardus, dan langsung meminumnya juga.

“Tidak tahu. Mungkin aku akan berjalan-jalan sebentar di luar.” jawabku.

“Hey, kau ini aneh sekali malam ini. Tampangmu tidak seperti biasanya, kau terlihat lebih lelah dan seperti banyak pikiran. Ada masalah apa?” tanya Ryeowook.

Aku hanya tersenyum miring. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk memberitahu temanku ini, tentang appa dan eomma yang sedang bertengkar hebat sebelum aku pergi ke Indonesia. Sebelum aku naik keatas panggung, eomma menelfonku. Dia bilang, sepulangnya aku dari sini, mereka akan mengadakan sidang perceraian. Hah, lalu aku hidup dengan siapa nanti?

“Wow wow! Rupayanya disini kalian berdua!” suara Kyuhyun dari kejauhan. “He, anak-anak mau pergi cari restoran, kalian mau ikut tidak?” tanyanya.

“Aku sudah pasti. Aduuuuh lapaaaar!” kata Ryeowook.

“Dan kau?” Kyuhyun beralih padaku.

“Aku nggak lapar. Kalian pergi saja duluan, aku akan berjalan-jalan dulu di luar. Aku akan meminjam mobil kru, jadi nanti aku akan langsung ke hotel.” jawabku.

Kyuhyun dan Ryeowook mengangguk, lalu berjalan pergi.

“Oya, jangan lupa, masih banyak ELF di luar sana,” ujar Ryeowook sambil menepuk bahuku.

“Oke.” ujarku.

Oke, saatnya menyamar. Aku berjalan menuju ruang kostum, dan mengambil pakaian bersih dari dalam koperku, sementara para kru membereskan barang-barangku untuk diangkut kedalam mobil, aku mengenakan kaos hijauku dengan celana jeans, lalu tidak lupa memakai topi baseball dan kacamata. Aku siap jalan-jalan sekarang.

Aku berjalan sekaligus sedikit berlari ke parkiran sambil terus melihat sekeliling, kalau-kalau ada elfyang melihatku dan langsung menodongkan kamera, seperti biasanya. Dan nggak lama kemudian, aku telah sampai di mobil salah satu kru. Aku mulai membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi pengemudi, lalu langsung menyalakan mesin mobil dan mengunci pintu. Aku terdiam.

Aku nggak tau mau kemana, aku nggak tau ada apa aja di Indonesia yang bisa membuat perasaanku lebih tenang. Yang aku tahu hanya jalan menuju hotel karena tadi aku melewatinya, untungnya ingatanku bagus, jadi aku sudah bisa mengingat jalan itu hanya dengan satu kali melewatinya. Aku mulai mencari peta di mobil itu, siapa tau ada peta Jakarta atau apa, yang dapat membantuku keliling kota ini. Tiba-tiba seseorang mengagetkanku, aku melihat sesosok yeoja atau… Ah apalah itu, dibalik pohon. Sedang apa dia disitu malam-malam begini? Sendirian? Apakah dia seorang elf? Tapi kenapa dia berada di belakang gedung?

Aku penasaran, mematikan mesin, lalu aku turun dari mobil, dan menghampirinya dengan hati-hati.

“Hey.” hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Aku nggak ngerti bahasa Indonesia, sama sekali.

Makhluk itu nengok kearahku, ya Tuhan! Yeoja ini cantik sekali, rambutnya panjang indah terurai sampai pundaknya. Aigooo! Ini sadako kah? Kenapa ada peri secantik ini malam-malam begini? Apa yang dia lakukan?

“Annyeonghaseo.” sapaku. Cewek itu tetap diam, tapi aku dapat melihat pancaran bahagia dari matanya.

“Yesung oppa?” tanyanya berbinar. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum. Dia langsung mengambil sebuah buku gambar besar dari balik tubuhnya. Dan astaga! Aku baru sadar, dia duduk diatas kursi roda.

“Apa itu?” tanyaku, berbahasa Inggris.

Cewek itu mengulurkan tangannya, “Aku Tansa, aku suka Super Junior!” katanya, dengan bahasa Inggris yang fasih pula.

Aku menjabat tangannya, “Senang bertemu denganmu.” kataku.

“Hey, bisa tolong dorong kursi rodaku ke samping mobil itu? Mianhae merepotkanmu,” katanya. Aku pun membantunya mendorong kursi rodanya kesamping mobil kru yang aku pinjam.

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini? Kau tahu kan, udara sangat dingin malam ini.” kataku pada cewek ini, yang ku ketahui bernama Tansa.

Tansa nggak menjawab pertanyaanku, dia malah terus mengarahkan pandangannya padaku.

“Wow, aslinya, kau jauh lebih tampan ya,” katanya.

“Haha… Kau bercanda,” kataku, aduh bisa-bisa mukaku merah kayak udang rebus nih!

Tansa mulai membuka buku gambar besarnya dan menunjukkan sketsa wajah seseorang, “Kau tahu, diantara member Super Junior yang lain, yang menarik hatiku adalah pria ini. Kau tahu kan dia siapa?” tanyanya santai.

WOW! Itu… Itu sketsa wajahku!

“Eeeuu… That… That is…,” kataku salting.

“Iya, ini sketsa wajahmu. Aku baru selesai membuatnya. Nggak nyangka ya, takdir malah mempertemukan aku denganmu disini, Oppa. Aku kira, kamu hanya bisa jadi seseorang yang aku idolakan, dan nggak akan pernah bisa ku temui sampai aku mati.” raut wajah yeoja ini serius banget, bikin aku merinding.

“Eeeuu… Gomawo, sudah menggambar sketsa wajahku. Oh iya, kau kesini sendirian? Mana yang mengantarmu?” tanyaku penasaran.

“Aku mendorong kursi rodaku sendiri kesini, butuh perjuangan sekali. Sebenarnya aku dirawat di rumah sakit disamping sana, jadi sebenarnya nggak terlalu jauh sih untuk berjuang sampai kesini. Oh iya, bisa tolong foto kita berdua?” tanyanya sambil mengacungkan sebuah kamera digital padaku.

“Oh, tentu.” aku meraih kamera itu, dan mulai menempatkan diriku disisinya, supaya lensa kamera itu bisa mengambil gambarku dan Tansa dengan baik.

Setelah berganti-ganti gaya dan berfoto ria sebanyak tiga kali, aku mengembalikan kamera itu pada cewek ini. “Oh iya, aku belum ingin kembali ke hotel. Kau mau aku antar ke Rumah Sakit? Di Rumah Sakit mana mungkin ada elf berkeliaran dan minta foto, jadi aku aman sepertinya.” tawarku.

“Benarkah? Dengan senang hati.” kata Tansa. Lalu aku mulai membopongnya memasukki mobil pinjamanku ini. Setelah dia ku bantu duduk di seat sebelah kiri, aku lalu memasukkan kursi rodanya ke dalam bagasi, lalu aku duduk di seat pengemudi.

“Jadi, apa yang kau lakukan dibawah pohon tadi? Tahu tidak, tadi aku sempat mengira kalau kau itu hantu, tahu!” candaku sambil mengarahkan mobil memasukki pintu rumah sakit.

Tansa tersenyum, “Seharusnya aku nggak berada diatas kursi roda. Aku cuma nggak bisa menggerakkan kaki kananku aja kok. Tadi itu, aku berniat untuk nonton konser kalian, tapi aku nggak punya tiket, jadi aku tunggu kalian sampai keluar dari belakang gedung. Aku tahu kok, kalian pasti keluar lewat pintu itu, dan benar saja kan, tidak lama setelah member lain dan para bodyguard keluar dari pintu belakang, kau tiba-tiba muncul.” ceritanya. Cantiknya… Aku berusaha untuk nggak melirik Tansa, jaim donk! Aku hanya mengagumi keindahan wajahnya dari sudut mataku.

“Lalu?” tanyaku.

“Aku nggak mungkin berkompetisi dengan elf lain yang nggak menggunakan kursi roda, untuk bisa berteriak-teriak memanggil nama kalian, atau mungkin minta foto, jadi aku diam saja dibawah pohon. Aku tahu, Tuhan berada di pihakku, Dia selalu menolongku.” ujar Tansa.

Benar saja, Rumah Sakit tempat Tansa seharusnya dirawat terletak nggak jauh dari gedung tempat konser kami. Tapi lumayan melelahkan juga, kalau harus mendorong kursi roda dari Rumah Sakit ini sampai ke tempat konser kami. Aku menghentikan mobil di parkiran di basement, sesuai dengan yang Tansa inginkan. Aku mematikan mesin.

“Eeeeuu… Oppa. Di dalam, orangtuaku pasti sedang panik mencariku. Tadi aku kabur dari Rumah Sakit karena ingin melihat Super Junior, jadi sebaiknya kau mengantarku sampai elevator disana, dari sana ada lorong kecil menuju ke bangsalku. Jamin deh, nggak bakal ada yang lihat aku, lorong itu sepi sekali. Saat pergi tadi, aku juga lewat situ,” kata Tansa.

“Arraseo.” aku mengangguk, lalu membantunya turun dari mobil.

“Oppa, kau ini baik sekali ya. Aku yakin, malam ini aku nggak bakal bisa tidur. Kenapa kita bisa benar-benar bertemu ya? Oh ya, Tuhan menjawab doaku.” kata Tansa, sambil berusaha menduduki kursi rodanya, dengan bantuanku.

“Ya, kau benar. Lagipula, aku sangat menghargai elf, tanpa mereka mungkin aku dan kawan-kawanku nggak akan bisa berada sampai kesini. Hanya saja, terkadang mereka membuatku ngeri karena keagresifan mereka,” celotehku. Lalu aku mulai mendorong kursi rodanya menuju sebuah elevator mungil di pojok basement, “Sebaiknya kau kuantar sampai ke bangsalmu ya,”

“Andwae, aku bisa masuk ke kamarku sendiri. Kau kembali saja ke hotel. Terima kasih telah membuat aku sangat bahagia malam ini. Kau idola yang baik ya, Oppa.” ujarnya.

“Ne cheonma.” aku mendorong kursi rodanya memasukki elevator, “Sekarang katakan, bangsalmu di lantai berapa?” tanyaku, bersikeras ingin mengantarnya sampai ke kamar rawatnya.

“Aku sudah bilang, aku bisa sendiri. Aku tidak mau merepotkan orang yang aku idolakan, kamu nggak seharusnya mengantarku sampai…,”

“Sudah! Aku sudah bilang, katakan saja lantai berapa!” bentakku. Aigooo! Apa yang telah aku lakukan? Aku terbawa emosi.

Tansa tertunduk.

“Eeeeuuu… Hey, aku nggak bermaksud membentakmu tadi. Mungkin aku terlalu lelah dan banyak pikiran sehingga aku nggak sengaja melampiaskan ke kamu,” kataku. “Mianhae.”

Tansa menatapku, lalu tersenyum. “Maafkan aku juga. Kalau begitu, tekan tombol 11, aku dirawat di bangsal di lantai 11.” akhirnya.

Aku mendorong kursi roda itu dengan hati-hati dan penuh waspada, kalau-kalau ada yang melihat kami mengendap-endap menuju ruang rawat Tansa. Nggak lama kemudian, sampailah kami di depan sebuah ruang rawat yang lumayan besar sepertinya, tempat Tansa dirawat inap.

“Gomawo, Oppa. Malam ini benar-benar malam yang paling indah seumur hidupku,” kata Tansa. Aku menatap gadis itu.

Ya Tuhan, manisnya. Kok bisa ya ada seorang elf yang bisa mengontrol dirinya kayak gini? Maksudku, dia nggak agresif, dan dia bersikap apa-adanya banget.

“Hey, Sungie Oppa. Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku harus masuk. Doakan aku ya, supaya aku nggak dimarahi appa dan eomma. Bisa gawat kalau mereka tahu aku kabur beberapa jam.” kata Tansa, membuyarkan lamunanku.

“Eh, oh iya… Lalu, alasan apa yang akan kau berikan?” tanyaku.

“Mmmm… Berjalan mencari makan di luar? Mereka akan tetap menghukumku karena berhasil membuat mereka khawatir, tapi tenang saja. Hatiku sedang senang sekali malam ini, jadi aku pasti bisa dengan rileks mencari-cari alasan, hehehe…,” Tansa cengengesan. Huuu, dasar.

Aku tersenyum, “Yasudah, aku kembali ke hotel. Oh iya,” aku melepaskan kalung yang berinisialkan huruf depan nama lahirku, yaitu huruf J. Lalu aku mengalungkannya ke leher Tansa, “Simpan ini ya. Besok malam aku akan kembali ke Korea, jadi ini kenang-kenangan dariku untukmu. Jangan sampai hilang, itu pemberian nenekku, satu-satunya orang yang aku sayangi di dunia ini.” kataku.

Tansa berseri-seri, “Wow… Terimakasih, Oppa. Aku sangat menyukainya, dan aku janji akan menjaganya sampai aku mati.” janji Tansa.

“Arraseo, aku pulang dulu ya. Senang bertemu denganmu, Tansa!” ujarku sambil berjalan pelan menjauhi Tansa.

Tansa melambaikan tangannya, aku membalas lambaian tangannya, dan berjalan menuju lorong gelap yang mengarah ke elevator di basement tadi. Benar saja, Rumah Sakit apa ini? Sepi sekali, lebih mirip rumah hantu yang angker, menurutku.

***

“He, semalam kau kemana? Kami makan yakiniku banyak sekali, sampai perutku sepertinya mau meledak,” suara Donghae, roommate ku.

“Hoaaaaammmm…,” aku mulet-mulet. “Aku jalan-jalan sebentar. Jam berapa ini?” aku mulai melirik jam diatas konter disamping tempat tidurku.

“Jam sepuluh. Hari ini rencananya kita mau jalan-jalan di mall untuk beli souvenir untuk keluarga kita, lalu ke sebuah tempat wisata, dan langsung menuju bandara setelah makan malam. Lebih baik kau cepat bersiap.” cerocos Donghae di depan kaca, sambil terlihat merapikan tatanan rambutnya.

“Haaaah, malas. Kepalaku pusing, rasanya aku mau mati saja.” aku membenamkan kepalaku kedalam bantal.

Sebelum makan siang.

“Hey, aku ada urusan sebentar, aku harus pergi. Kalian mau menungguku kan? Aku akan kembali lima menit sebelum kita berangkat.” ujarku.

“Ah, kau mau kemana sih?  Kita akan berangkat satu jam lagi,” protes Eunhyuk.

“Mau aku antar?” tawar Sungmin.

“Kau mau kemana sih? Jangan sampai aku terlambat makan, ya!” tambah Shindong.

“Mian, mian. Ada urusan penting pokoknya. Sungmin, kau boleh ikut kalau kau mau.” ujarku.

“Ya sudah, sana pergi!” Eunhyuk bete.

“Annyeonghigaseyo!” aku langsung berlari menuju lobby hotel.

Di Rumah Sakit.

“Loh? Mau ngapain kita kesini? Siapa yang sakit?” tanya Sungmin.

“Semalam aku bertemu seorang elf, dia berbeda dari elf kebanyakan. Aku mau mengucapkan selamat tinggal karena aku akan pulang ke Korea. Dia sedang dirawat di Rumah Sakit ini,” kataku.

Sungmin hanya mengangguk, lalu turun dari mobil bersamaku.

Kami menuju elevator semalam, dan melewati lorong gelap nan sunyi itu menuju lantai 11. Lalu sedikit berlari, aku menuju ruang rawat Tansa. Untungnya lantai 11 sepi, jadi nggak bakal ada yang melihat dan mengenali kami. Aku hendak mengetuk pintu kamar rawat itu, tapi seorang dokter sudah membukanya terlebih dahulu, hendak keluar dari kamar rawat. Aku dan Sungmin membungkukkan tubuh kami memberi hormat. Dokter itu melewati kami begitu saja.

“Huh. Apa semua orang Indonesia seperti itu?” gerutu Sungmin pelan. Aku tak mempedulikannya, dan langsung masuk ke ruang rawat itu.

Di dalam ruang rawat itu, terlihat ada dua orang perawat, seorang ibu yang sedang menangis di pelukan suaminya, dan seorang anak kecil lucu yang memegang sebuah buku hijau kecil yang cukup tebal.

“Sungie! Minnie!” kata anak cewek itu sambil menunjuk kearah kami. Lalu ibu dan bapak di hadapan kami langsung melihat kearah kami.

Mereka langsung berdialog dengan bahasa Indonesia, yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku melihat ke tempat tidur, disana terbaringlah seorang wanita yang ditutup selimut sampai ke kepalanya.

“Sungie! Minnie!” anak kecil cewek itu langsung memelukku dan Sungmin bergantian. Dia bicara bahasa Indonesia lagi. Ah! Harusnya aku tahu apa yang dibicarakannya.

Excuse me, what happen to Tansa? IWe’re her friend,” kataku pada semua orang yang ada di ruangan itu.

“Sepertinya mereka nggak kenal kita, Sungie.” bisik Sungmin.

We’re sorry, Sir. This patient is gone,” kata salah seorang perawat yang mahir berbahasa Inggris.

Aku menganga hebat. Aku nggak percaya kalo Tansa… Dia sudah tiada. Baru tadi malam aku bertemu dengannya, dan pagi ini dia udah meninggal???

Sang Bapak membawa istrinya keluar dari ruang rawat, diikuti dua perawat tadi. Di ruangan itu, sekarang hanya ada aku, Sungmin, adik kecil ini, dan jasad Tansa. Aku berjalan pelan menuju jasad itu, dan membuka sedikit selimutnya untuk melihat wajah cantik itu untuk terakhir kalinya.

“Ini elf yang kau maksud?” bisik Sungmin. Aku mengangguk pelan. Aku masih melihat kalung itu terpajang di leher Tansa. Lalu dengan hati-hati ku lepaskan kalung ku itu dari lehernya.

Si anak kecil ini mulai berkata sesuatu dalam bahasa Indonesia, sambil mengacungkan buku hijau itu padaku. Sungmin yang menerimanya. Dia mengisyaratkan pada anak kecil itu, yang kurang lebih berarti “buku ini milik wanita itu, untuk pria ini?”. Si anak menangguk, lalu memeluk Sungmin lagi, dan gantian memelukku.

My sister love you.” bisik si anak itu di telingaku. Lalu, dia keluar ruang rawat itu. Aku masih membatu.

Kali ini Sungmin yang menyetir mobil kearah hotel. Sedangkan aku duduk dibangku sebelah kiri sambil terus membaca buku hijau itu, dan ternyata ditulis menggunakan bahasa Inggris, dan diselingi sedikit bahasa Prancis dan Korea. Tansa memang cewek pintar.

Pukul 1 pagi.

Sakiiiit sekali rasanya, ketika penyakit ini mulai membuatku nggak bisa menggerakkan kakiku. Ini sudah tahun kedua, setelah aku divonis gagal ginjal dan mengalami stroke sebagian. Terakhir, dokter bilang fungsi ginjalku hanya tinggal 10%. Disaat itulah aku kehilangan semangat hidupku. Untungnya hari ini ada konser Super Junior, yes! Aku tadi udah berjuang ke tempat konser mereka, aku yakin Allah pasti bantu supaya aku bisa ketemu Yesung. Mmmm… Atau Donghae? Atau Kyuhyun mungkin? Hmmm… Je suis content! Aku ketemu semua anak SUJU! Tapi aku nggak bisa apa-apa, aku cuma lihat mereka dari jauh. Oh ya, kalung pemberian Yesung Oppa ini akan aku jaga sampai aku mati, seperti janjiku padanya. Seandainya aku masih bisa hidup lama. Aaaaa saranghaeyo, Sungie

Aku menutup buku hijau itu, setelah membaca catatan terakhir Tansa yang ditulisnya malam itu, mungkin setelah aku pulang. Lalu aku memandangi kalung inisial namaku lagi. Kalau mengingatnya, mengingat senyumnya, caranya dia bicara, aku jadi bisa melupakan sedikit uneg-uneg yang terus berkecamuk di kepalaku karena kesenangan yang aku rasakan. Semoga aku bisa lebih kuat, dan lebih semangat menjalani hidupku di dunia ini. Gadis diatas kursi roda itu, dia memberiku semangat ini. Terimakasih.

-The End-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s