punten, numpang promosi heheh… Semoga suka yaw😀

 

Title: I Still Love You

Author : Diandra

Main Casts: Kim Jong Woon, Alexa

Genre: Romance

Length: Oneshoot

 

Alexa’s POV

-Cheonan, Korea-

“Topi ini keren, mau kau pakai?” tanyaku pada suamiku, Kim ‘Yesung’ Jong Woon.

“Oke, aku bisa pakai sendiri.” Yesung ku langsung merebut topi baseball putih yang ada ditanganku.

“Oh ya, nanti mau aku bawakan makan siang apa? Ada Omma dan Appa kan? Aduh, sudah lama aku nggak main ke Handel & Gretel,” ucapku dari lantai bawah, sambil mencuci piring bekas sarapanku dan suamiku.

Terdengar langkah kaki Yesung menuruni tangga, “Terserah kau. Sudah ya, aku pergi dulu!” katanya sambil mengecup keningku. Lalu dengan santainya dia melenggang pergi.

Ha? Apa ini? Hanya kecup dan tidak mengatakan kata apapun lagi? Apa susahnya sih bilang “Saranghae” atau apa kek seperti biasanya! Huh, dasar. Sudah seminggu ini sikapnya berubah padaku. Apa dia sedang marah padaku? Tapi aku salah apa sampai dia semarah ini hah?

Setelah menikahiku, Yesung, aku, beserta kedua orangtuanya dan Jong Jin memang mengelola kafe miliknya yang dibelinya saat Super Junior masih aktif beberapa tahun lalu. Memang sih… Beberapa hari terakhir aku belum sempat pergi ke kafe itu untuk sekedar bantu-bantu Appa dan Omma disana karena aku sibuk sekali. Aku sibuk berkirim e-mail dengan teman-teman SMA ku di Indonesia, tempat kelahiranku. Kabarnya, alumni SMA angkatanku akan mengadakan reuni akbar yang diselenggarakan dua hari lagi, bayangkan saja! Masa acara penting seperti itu, aku nggak datang.

Memang sih, suamiku itu nggak mengizinkan aku untuk pergi. Tapi, memangnya aku betah berlama-lama disini tanpa bermanja-manja dengannya? Aku jadi tinggal di negara ini tuh karena dia! Aku sempat dapat beasiswa dan memilih bersekolah di Korea itu karena aku sangat menyukai Super Junior terutama pada si Yesung ini. Tapi sekarang apa? Setelah aku mendapatkan apa yang aku mau, si Nyebelin itu berubah jadi nggak romantis sama sekali dan aku nggak tau ada apa dengan dia! Apa dia jatuh cinta pada wanita lain? Tapi kan dia sudah punya istri dan wanita itu adalah aku. AKU! Apa-apaan ini? Huh, lebih baik aku kabur saja!

Aku buru-buru menyelesaikan pekerjaan mencuci piringku dan langsung berlari ke lantai atas, kamar tidurku dan Yesung. Lalu aku mulai mengeluarkan koper, dan memasukkan beberapa helai baju untuk aku pakai di Indonesia, mmmm sekarang musim apa ya disana? Bulan September, ah sekarang lagi musim kemarau disana, oke, kalau begitu masukkan baju-baju yang nggak terlalu tebal.

Setelah selesai packing, aku langsung merobek selembar kertas dari buku catatan belanjaan dan aku menulis surat untuk suamiku yang berubah jadi monster itu. Lalu, aku langsung bergegas menuju ATM terdekat untuk mengambil uang secukupnya dan menuju ke bandara. Aduh, aku bisa dapat penerbangan hari ini nggak ya? Harus! Harus dapat! Tidak peduli aku mau dapat seat di kelas ekonomi yang paling jelek, atau tepat dibagian atap pesawat sekalipun. Pokoknya aku udah benci sama Korea! Huh! Aku mau pulaaaaaang >_____

 

***

 

Yesung’s POV

“Aku pulang.” aku memasukki rumah mungilku dan langsung duduk di Ruang makan. “Alexa?” aku memanggil istriku namun tidak ada jawaban. “Hey kau dimana? Kenapa tidak membawakan makan siang untukku tadi? Kenapa ponselmu mati?” ocehku.

Aku mulai berkeliling rumah mencarinya, namun hasilnya nihil. Sampai kutemukan selembar kertas tergeletak diatas tempat tidur kami. Sebuah surat? Ya, ini sebuah surat, tulisan tangan Alexa. Aku tahu itu, tulisan Hangulnya kan sangat jelek seperti ini.

 

Untuk Kim Jong Woon,

Maaf, aku sudah lelah kau perlakukan seperti ini. Sebenarnya apa sih salahku? Akhir-akhir ini kau tidak pernah mau makan malam di rumah, sampai aku selalu makan malam sendirian. Kau tidak pernah bertanya apa yang sedang kulakukan di rumah lagi. Kau lebih cuek sekarang. Apa kau punya kekasih gelap? Aku mau pergi dulu, jaga dirimu baik-baik ya, Kim Jong Woon.

Alexa, istrimu yang sedang marah

 

“Huh dasar cewek bodoh. Kenapa dia bisa berpikir yang tidak-tidak?” Aku mengambil ponselku dari saku mantelku dan langsung menekan serangkaian nomer, “Hey, Jong Jin, bisa tolong kau booking satu tiket pesawat menuju Indonesia untuk besok pagi-pagi sekali? Ya, tidak apa-apa. Atas namaku. Baiklah aku tunggu kabar selanjutnya,”

 

***

 

Alexa’s POV

-Jakarta, Indonesia-

Aku masih mematung di depan cermin, ini sudah pukul delapan malam. Sebenarnya aku sudah terlambat ke acara reuni, tapi tak apalah. Hatiku masih tidak tenang, sudah dua hari aku tidak memberi kabar pada suamiku tentang keberadaanku. Dia juga tidak menelfon Ibuku untuk bertanya dimana aku. Apa benar dia punya simpanan dan sudah tidak mempedulikanku lagi? Aduh, mikir apa aku ini? Dia kan bukan cowok yang seperti itu. Aku tahu, Kim Jong Woon memang bukanlah orang yang romantis, tapi hampir setiap malam dia selalu menyanyikanku sebuah lagu sebelum kami tidur dengan suaranya yang super keren itu.Belum lagi, kalau aku sedang kelelahan, dia selalu menghiburku dengan “Octopus Dance” nya yang gila itu. Lalu kenapa sudah seminggu ini sikapnya dingin sekali padaku? Aduuuuh, aku salah apa sih!

Galau! Aku merindukan cowok jelek itu sekarang, dan lihat wajahku yang kusut ini! Bisa gawat kalau teman-temanku lihat mukaku yang kusut karena sedang kesal dan sedih. Jangan, jangan sampai mereka melihatku seperti ini. Aku latihan senyum sebentar di depan cermin, lalu setelah agak percaya diri untuk keluar rumah, aku pun melangkahkan kakiku menuju gedung tempat akan diselenggarakannya acara reuni itu. Hmmmmh bismillaah…

 

***

 

“Hei heeeeei! Alexa apa kabar lo? Aduh udah berjilbab ya sekarang? Oh iya, kok nggak sama momongan sih?” celoteh Rasya, teman sebangkuku dulu.

Acara reuni diselenggarakan di aula sebuah hotel mewah di ibukota.

“Hehe… Momongan apa sih? Baru juga beberapa bulan,” kataku sambil terus mencoba untuk senyum.

“Oh iya, denger-denger laki lo artis ya? Ih kok bisa siiiih? Cerita doooonk…,” goda Lia, temen ngebakso bareng zaman dulu.

Aku malu-malu, “Kayanya Rasya juga tau kok,” kataku.

“Huuuu… Malu-malu lagi lo. Jadi gini, pas gue masih se-sastra Korea sama Alexa, dia tuh dapet S2 ke negara itu, waktu itu masih beken-bekennya boyband deh disini, lo tau Super Junior kan? Nah, Alexa itu semangat banget buat ke Korea karena dia suka banget sama yang namanya Yesung, anak Super Junior.” cerita Rasya.

“Terus terus terus?”

“Pokoknya udah takdir deh, abis kuliah gue nerusin kerja kan di Korea. Terus tiba-tiba ada kejadian-kejadian yang bikin gue ketemu sama dia, terus yaudah… Dia ke Indonesia buat ketemu Nyokap,” aku menambahkan.

“Wah pasti seru yaaaaa jadi istrinya artis. Gue ngejar-ngejar Jeremy Thomas kagak dapet-dapet tuh!” kata Lia.

“Ah itu sih emang elo nya aja yang belum beruntung, atau emang si Jeremy Thomas pake jampi-jampi anti sial, makanya nggak pernah ketemu sama elu.” goda Rasya, aku hanya tersenyum melihat tingkah teman-teman zaman dulu ku.

“Eh, temen-temen, sori ya… Gue mau ke toilet dulu,” ujarku pamit. Lia dan Rasya mempersilakan ku untuk pergi.

Aku akhirnya keluar gedung dan duduk di sofa lobby hotel. Aduh aku ini kenapa ya? Aku udah ada di acara yang sangat aku tunggu-tunggu, bisa bertemu teman-teman zaman dulu ku. Tapi kenapa aku malah nggak menikmatinya sama sekali? Kenapa aku jadi sedih begini sih?

Tiba-tiba airmataku menetes, aku menangis. Aku rindu Yesung ku yang menyebalkan, aku rindu rumah mungil kami di Korea sana. Aku cepat-cepat merogoh tas ku untuk mengambil tisu, tapi tiba-tiba ada sebuah tangan yang menawariku selembar sapu tangan.

“Kok nggak ke aula?” suara cowok.

Aku menengok kearah datangnya suara. Aigoooo! Itu kan… Itu mantan pacarku dulu waktu di SMA! Dia… Dia Tommy.

Aku mendapatkan tisuku, lalu menghapus butiran airmata yang udah membasahi pipiku dengan tisu itu, aduh make-up sayaaaang… Jangan luntur ya!

“Nggak pa-pa. Mungkin gue kurang sehat, kayanya gue mau pulang aja.” jawabku.

“Gue anter ya!” tawar Tommy.

“Eh, nggak usah. Gue… Gue bisa naik taksi kok,” tolakku halus. Ternyata dia masih seperti dulu, cowok baik.

“Oh iya, elo kesini sama siapa? Pasangan lo?” tanyanya.

Aku menggeleng, “Dia lagi sibuk.” ujarku.

“Masa sesibuk itu sih, sampe nggak ada waktu buat nemenin lo ke acara ini?”

“Elo sendiri, mana pasangan dan anak-anak lo?”

Aku lihat dari sudut mataku, dia tersenyum, “Gue belum bisa buka hati gue buat orang lain, Lex.”

DEG! Aduh, Mak! Maksudnya????

“Sayang ya… Orang yang gue tunggu-tunggu, ternyata udah nggak bisa gue milikin.”

Ya ampun ya ampun ya ampun! Alexa, tahan hatimu, Nak! Inget ya, cewek yang dia maksud bukan kamu, bukan kamu!

“Seandainya bukan anak boyband itu yang memiliki lo,” katanya lagi.

Aku langsung bangkit dari sofa, “Eh, kayanya gue mau pulang aja deh. Udah jam sepuluh,” kataku.

Tommy bangkit dari duduknya, “Kenapa buru-buru sih, Lex? Toh cowok lo juga nggak ada disini kan?” katanya ngotot.

Aku langsung berlari ke luar hotel, menyesali kenapa sih Kim Jong Woon itu nggak nemenin aku ke acara reuni ini. Dan kenapa aku harus ketemu Tommy disaat yang nggak tepat kayak gini.

“Lex, lo lagi ada masalah sama rumah tangga lo?” Tommy narik lenganku. Aku meronta.

“Tommy! Hey gue itu udah nggak single lagi kayak dulu. Dunianya tuh udah beda, Tom.” kataku, aku mulai panik kenapa Tommy tiba-tiba bisa seberani itu. Ternyata dia bukan cowok baik!

“Oke, oke, fine. Tapi lo masih bisa cerita sama gue,” suasana disamping hotel begitu sunyi, padahal ini malam minggu, pada kemana orang-orang? Tolong aku! Dasar Alexa babo! Kenapa lari kearah tempat yang sepi kayak gini sih!

“Tom, gue mau pulang.” kataku.

“Plis, Lex… Gue masih nunggu elo. Gue nggak bisa lupain lo, Lex, gue nggak bisa!” Tommy mulai kurang ajar dengan menggenggam tanganku, tapi aku nggak bisa teriak. Tenggorokanku seperti ada yang mengganjal, aku cuma bisa sesenggukan.

Get off of my girl.” suara cowok, berat dan agak serak. Itu seperti suara…

You…,” kata Tommy, perlahan genggamannya mulai melemah.

Aku nengok kearah datangnya suara, dan aku langsung berhambur memeluk sosok cowok itu. Cowok yang tingginya sekitar 178cm dan berambut acak-acakan itu langsung menghapus air mataku.

“Pulang!” katanya galak padaku dengan bahasa Korea yang fasih, aku pun menurut dan dengan pasrah mengikutinya yang menggandeng lenganku dengan keras kearah parkiran hotel. Ku lirik Tommy yang membatu dibelakang kami. Ya ampun, apa sih yang udah aku perbuat hari ini?

 

***

 

“Kenapa sih kamu nggak bisa sabar? Aku sibuk mengurusi Handel & Gretel. Appa dan Omma sudah terlalu tua untuk terus bekerja, makanya akhir-akhir ini aku dan Jong Jin yang sering lembur.”

Yesung marah, dia terus mengoceh tentang sifatku yang kekanak-kanakan dan dia mengeluarkan alasan kenapa aku nggak boleh dateng ke acara reuni, ternyata rasa cemburunya lebih besar dari pada aku, dia takut aku bertemu mantan pacarku yang sedikit ‘psycho’ itu. Aku pernah bercerita sedikit tentang Tommy padanya.

“Sekarang katakan, kau puas sudah membuatku cemas setengah mati?” tanya Yesung ku, aduh galaaaaaaaak! Aku membatu karena ketakutan.

Yesung mengambil sapu tangan dari dalam saku celana jeansnya, dan langsung mengelap wajahku yang berlinangan air mata. Aku lihat, saputangan putihnya berubah jadi warna hitam karena eyeliner ku.

“Lihat ini! Kau pakai eyeliner, padahal aku sudah bilang aku tidak suka kau pakai eyeliner. Kau lebih manis kalau tidak berdandan, terlihat lebih natural, tahu! Sudah, jangan menangis. Besok pagi-pagi sekali kita pulang. Appa dan Omma marah besar padamu,” kata Yesung, lalu ia berlalu meninggalkanku sendirian di kamar tidurku yang dulu ini.

Aduuuuuh… Babo babo babo! Aku menangis lagi.

 

***

 

-Cheonan, Korea-

Setelah minta maaf pada Ibuku, aku dan suamiku pamit pulang. Ibuku kelihatan sedikit kecewa setelah tahu kalau aku berbohong padanya, aku bilang Yesung mengizinkanku kesini. Tapi Yesung bilang kalau dia memaafkanku, jadinya Ibu lega mendengarnya. Heuh setelah ini, aku akan dihukum apa ya sama suamiku? Aduuuuh…

Kata Yesung, Jong Jin yang menjemput kami di bandara. Saat ini pukul tujuh, setelah selesai sholat Maghrib di bandara, aku masih membuntuti Yesung dari belakangnya menuju mobil. Tapi… Mana Jong Jin? Dia kan seharusnya ada di mobil, tadi sepertinya hanya aku dan Yesung yang sholat di musholla karena Jong Jin bukan seorang muslim, lalu kemana anak itu?

“Jong Jin mana?” tanyaku takut-takut. Semenjak pulang dari Indonesia, Yesung masih saja ngambek padaku, kami saling diam dari tadi. Kelihatannya Yesung memang marah besar padaku.

“Aku menyuruhnya pulang naik bus,” jawab Yesung sambil menaiki mobil.

“A-apa kau bilang? Teganya… Kenapa kau lakukan itu?” tanyaku lagi sambil duduk di seat penumpang.

“Sudah jangan banyak tanya, diam saja disitu.” Yesung menyalakan mobil, dan langsung membawa kami ke luar bandara.

Diperjalanan kami masih saling diam. Aduh, aku mulai ngantuk. Setelah menguap diam-diam, akhirnya tanpa sadar aku ketiduran.

 

***

 

“Hoaaaaamm… Dimana ini?” aku ngucek-ngucek mata.

“Ayo keluar, kita makan dulu.” jawab Yesung lembut sambil merapikan bajuku yang berantakan. Loh loh… Dia udah nggak ngambek lagi nih ceritanya?

“Kau… Kau sudah tidak marah padaku?” tanyaku.

Yesung tersenyum sambil memasukkan rambutku yang keluar dari sela-sela jilbabku, “Anio.”

Aku pun tersenyum, lalu turun dari mobil. Yesung langsung menggandeng tanganku. Akhirnyaaaa… Suamiku kembali.

Yesung memilih seat di lantai atas, tepatnya di balkon yang langsung mengarah kebawah. Dari sini, aku bisa melihat lampu-lampu yang keliatan indah banget dari atas sini. Aku terpesona sekali dengan indahnya Korea malam itu.

Tiba-tiba Yesung memegang tanganku, ah rasanya hangat.

“Istriku, saengil chukka hamnida.” ujarnya.

Aku membatu. Oh iya! Hari ini kan hari ulang tahunku! Kenapa aku sampai lupa???

Yesung mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, dan memberikannya padaku.

“A-apa ini?” tanyaku. Dia membantuku membuka kotak mungil itu. Dan isinya cukup membuat jantungku berhenti berdetak selama satu detik, ini cincin emas putih yang ingin aku beli beberapa hari lalu saat aku menemani Yesung ke mall karena ‘hobi shopping’ nya yang lagi kambuh.

“Kau ingin cincin ini kan? Kemarin saat kau pergi ke kamar kecil di mall, aku langsung masuk ke toko perhiasan itu dan membelinya. Sengaja aku simpan untuk hadiah ulang tahunmu. Dan kau tahu kenapa akhir-akhir ini aku bersikap dingin padamu? Itu bukan karena aku punya kekasih gelap seperti yang kau duga, gadis bodoh! Aku bersikap seperti itu hanya untuk mengetes seberapa kau menyayangiku, itu saja. Lagipula aku ingin memberikanmu kejutan hari ini,” ceritanya.

“Apa-apaan kau! Sangat tidak lucu!” aku menonjok  pelan lengan suamiku. Dia hanya tertawa renyah.

“Jangan hanya dilihat seperti itu, aku tahu sebenarnya air liurmu sudah mau menetes kan? Sini biar aku pakaikan,” Yesung langsung melingkarkan cincin imut itu ke jari manisku.

“Aduh, cincin ini mewah sekali, dan harganya juga sangat mahal. Aku nggak benar-benar menginginkannya kok. Aku cuma suka melihat cincin ini,”kataku. Benar, cincin ini indah sekali.

“Jangan bohong. Lagipula tak apa kan kalau aku membelikan sebuah cincin untuk istriku sendiri? I still love you, naega michyeo, Baby.” ujarnya. Aaaaargh! I’m melting like an ice under the sun light!!!!

“Oh iya, kau serius soal Appa dan Omma yang marah besar padaku?” tanyaku.

“Mmmm… Mungkin saja. Habisnya kau tega tidak mengantarkan makan siang untukku. Omma mana mau anaknya yang keren ini kelaparan siang-siang hanya karena istrinya ‘kabur’ dari rumah? Omma melarangku habis-habisan minum coca cola zero waktu itu, kau tahu? Diia sangat khawatir kalau radang ususku semakin parah. Omma hanya bingung, kau tiba-tiba tidak membawakanku makan siang. Haha…,”

Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikanku kebahagiaan yang tak terkira ini (:

 

-the end-

 

biasa, kritik-saran yaw… heheheh ^^V

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s